Mengembalikan Fungsi Lahan Melalui Reklamasi di PT Banjarsari Pribumi

Spread the love

PENDAHULUAN

Pada dasarnya, selain pertambangan batubara memberikan manfaat ekonomi langsung, tidak dipungkiri pertambangan juga berpotensi menyebabkan gangguan lingkungan, termasuk fungsi lahan dan hutan. Tekanan yang besar terhadap isu lingkungan diakibatkan oleh perilaku beberapa pelaku usaha pertambangan, memang harus dikoreksi. Juga kadang, ketidaktahuan masyarakat terhadap industri pertambangan secara makro. Ketidaktahuan, kadang memunculkan presepsi keliru terhadap industri pertambangan secara keseluruhan. Padahal, salah satu tujuan kegiatan pertambangan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi bagi

pelaku usaha pertambangan, segala yang menyebabkan ketidaktahuan masyarakat, termasuk isu keruskan lingkungan, harus di luruskan. Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam yang sangat kaya termasuk tambang batubara. Teknik penambangan batubara yang umum dilakukan di sumatera selatan adalah teknik penambangan terbuka (open pit) dengan metode gali-isi kembali (back filing). Kegitan pertambangan terbuka menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, terjadinya degradasi pada aliran sungai, perubahan bentuk lahan dan terlepasnya logam-logam berat yang dapat masuk ke media lingkungan perairan sehingga perlu dilakukan upaya pemulihan lingkungan dengan melalui reklamasi lahan dan revegetasi.

TEKNIK REKLAMASI 

Dengan metode tambang terbuka (open pit) yang dilakukan PT. Banjarsari Pribumi sampai sekarang, lahan bekas penambangan yang sudah selesai di tambang segera dilakukan reklamasi dan revegetasi. Reklamasi merupakan kegiatan untuk merehabilitasi kembali lingkungan yang telah rusak baik itu akibat penambangan atau kegiatan yang lainnya. Rehabilitasi ini dilakukan dengan cara penanaman kembali atau penghijauan suatu kawasan yang rusak akibat kegiatan penambangan tersebut. Pelaksanaan reklamasi dan revegetasi, dapat dilakukan pula secara bersamaan sejauh dengan kemajuan aktifitas penambangan. Kegiatan pengelolaan pengupasan tanah dan penimbunan tanah, tidak dapat dilepaskan dari proses bagaimana tanah yang diangkut dibawa ke lokasi penimbunan tanah (Bank soil)

Kadang tanah hasil pengupasan segera digunakan sebagai pelapis tanah yang telah ditentukan elevasi dan kemiringannya. Selanjutnya, dilakukan proses perapian (Re-conturing) dan pembuatan drainase serta jalan untuk memudahkan penanaman dan pemeliharaan tanaman reklamasi. Untuk mengurangi proses terjadinya erosi dan untuk meningkatkan kesuburan tanah di daerah penimbunan dan reklamasi permanen, lapisan tanah penutup

ini diperlukan penanaman dengan menggunakan tanaman penutup tanah (covercrop) jenis kacang-kacangan.Untuk keperluan tanaman reklamasi, pembibitan menjadi bagian yang sangat penting. Fasilitas pembibitan untuk memproduksi semai atau bibit yang diperluan untuk revegetasi, diperlukan beberapa jenis tanaman yang menjadi pilihan antara lain karet, sengon, trembesi.

Untuk penanaman tanaman penutup tanah (covercrop), PT. Banjarsari Pribumi memilih campuran jenis tanaman kacang-kacangan seperti Centrasema pubescens(CP), Colopogonium mucoides(CM). Jumlah 50 kg per hektar. Sistim yang dipilih, adalah jalur atau spot pada daerah yang akan direvegetasi.

Penanaman, Pemeliharaan dan Pengamatan Pertumbuhan Tanaman

Kegiatan penanaman dilakukan muali saat ini untuk mengejar target pencairan jaminan rekalamasi. Kegiatan yang dilakukan dengan penanaman tanaman pioner atau tanaman yang cepat tumbuh dilakukan dengan penanaman covercrop Tiap jenis pohon ditanam dalam jalur dengan jarak tanam 4m X 4m. lubang tanam berukuran 50cm X 50cm dengan kedalaman 30cm, tiap lubang tanam diberi pupuk bokasi sebanyak ± 1 kg dan dicampur dengan topsoil.

Pemeliharaan tanaman dilakukan secara berkala setiap 3 bulan. Kegitan pemeliharaan yang dilakukan adalah penyiangan gulma di sekitar tanaman. Selain gulma serang hama dan penyakit lain juga diamati selama pemeliharaan.

Untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan pertumbuhan tanaman pada lahan bekas tambang, dapat ditentukan dari presentasi daya tumbuhnya, presentasi penutupan tajuknya, pertumbuhannya, perkembangan akarnya, penambahan spesies pada lahan tersebut, peningkatan humus, pengurangan erosi dan fungsi sebagai filter alam. Dengan cara ini, dapat diketahui sejauh mana tingkat keberhasilan yang dicapai dalam merestorasi lahan bekas.

Terakhir untuk mendapatkan keberhasilan revegetasi, dilakukan dengan pemeliharaan rutin meliputi pemupukan berkala, penyaringan, pendangiran, pemangkasan dan penyulaman. 

Penutup

Dalam melakukan perencanaan penutupan tambang selalu memadukan aspek lingkungan, ekonomi dan sosial dari semua tahapan operasional tambang. Daerah terganggu menjadi berkurang, Potensi erosi tanah dapat dikurangi, meningkatkan kualitas air, meminimalkan resiko potensi air asam tambang dan tentunya keberhasilan revegetasi di daerah reklamasi yang dapat dukungan kehidupan satwa yang ada di sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *